Saturday, December 1, 2007

NATAL

.
Kelahiran dan munculnya seorang anak manusia -- benar manusia biasa, yang keberadaannya di panggung dunia terikat pada sepotong babak kecil pada lintasan panjang waktu sejarah dan seremah ruang di antero alam semesta -- bulan Desember ini mulai diperingati banyak orang yang masih saja terpesona.

Saat manusia menikmati hubungan yang gampang dan sederhana antara dirinya dengan sesuatu yang mereka beri nama Tuhan Sang Maha Segala, seorang anak manusia menebarkan kesadaran baru bahwa Dia ternyata bahkan jauh lebih sederhana. Allah bisa jadi memang raja atau panglima sedangkan manusia adalah bala tentara perangnya. Atau bisa juga Dia adalah majikan atau mandor yang mengamati polah hamba dan anak buahnya dengan perhitungan ketat dan njlimet sesuai kitab aturan untuk membayar upah maupun hukuman. Namun ketika Allah digambarkannya sebagai raja yang welas asih, orang tua yang berlimpah kasih dan ampunan, gembala yang sungguh bekerja dengan cinta untuk seluruh ternaknya, bahkan Allah adalah pelayan yang mencuci kaki manusia sang tuan, juga Dialah sesungguhnya orang-orang hina musafir kelaparan di sekitar keseharian, maka meresapinya membuat ada yang berdesir di dada. Mengguncang kemapanan dogma yang beku mengendap di kepala.

Lalu awal kesadaran itu semakin menerang saat kematian diri sendiri tidak lagi ketakutan yang harus dihindari demi tujuan pengorbanan untuk kehidupan semua sesama dan sama sekali bukanlah kekalahan. Manusia yang biasa mengukur Tuhan dan kekuasaanNya dari kekuatan dan kejayaan duniawi, perlahan mulai berpaling pada sang korban. Simpati dan empati kian lama makin mewujud menjadi kekaguman dan pencerahan. Bahwa bukan orang lain yang menjadi lawan yang harus dikalahkan, melainkan kesombongan diri dan ego yang sebenarnya sering tak disadari dituhankan.

Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh para pengikut di awal jaman, saat mereka menyimpulkan bahwa manusia bernama Yesus dari Nasaret adalah Anak Tuhan bahkan Tuhan sendiri yang hadir di dunia. Mereka mungkin tak menyiapkan diri untuk beradu logika ala matematika yang digemari manusia masa kini. Atau juga mungkin tak peduli toh Tuhan juga tidak serta merta bisa dilogika kalaupun Dia tak beranak dan tak berwujud di alam fana ini. Saya hanya bisa memperkirakan bahwa pengalaman dan pencerahan yang membuat mereka berani mengambil kesimpulan dan menjadi dorongan untuk menyebarluaskan.

Lalu ketika kesadaran harus diceritakan dan diargumentasikan melintasi generasi dan jaman, tak ada cara lain yang termudah selain harus disusun menjadi kata perkata. Maka kesadaran berubah menjadi kata dan kata berubah lagi menjadi pengertian baru yang bisa jadi tidak sama atau bahkan sama sekali berbeda makna. Sejarah mencatat bagaimana iman tentang cinta dan pengorbanan yang didogmakan menjadi kata-kata keramat bisa ditafsir menjadi alasan untuk menebarkan kebencian, darah, dan pemaksaan.

Namun manusia mungkin memang tercipta dilengkapi dengan kehausan untuk mencari pencerahan. Selalu ada pergerakan untuk mencari makna kesejatian yang terus mengayun dari satu ujung ke ujung lainnya tanpa menyadari bahwa sejarah terus berulang. Maka momen peringatan memang diperlukan. Untuk sejenak berhenti dan merenungkan kembali arah perjalanan pencarian. Siapakah Tuhan sebenarnya? Atau siapakah kita? Mahluk ciptaan yang terpisah secara eksistensi dari penciptanya? Punya potensi untuk mengingkari dan menyaingiNya meski takdir menentukan selalu kalah? Atau seperti yang diisyaratkan oleh sang pembawa kabar gembira, bahwa segala hal termasuk diri kita berhak memancarkan sinar Tuhan?

Selamat mempersiapkan perayaan Natal bagi yang akan merayakan, memperingati kelahiran Yesus Kristus yang sebenarnya entah kapan karena mungkin waktu itu belum ada kesepakatan penanggalan. Selamat merenungi dan menikmati pengalaman pencerahan di hati kita masing-masing.

Bagi saudara-saudara yang tidak merayakan, semoga tak juga lelah senantiasa mencari dan merenungkan kesejatian, dengan sepenuh penghormatan dari saya. Salam persaudaraan!