Sunday, February 3, 2008

TENTANG AKHLAK

.
Suatu sore di depan loket transjakarta, kubaca tulisan yang tertempel di kaca jendela, tentang contoh-contoh perilaku yang tidak menghargai petugas. Diantaranya: tidak membalas senyuman, mengetok-ngetok kaca dengan keras, dan memberikan uang dengan cara melempar. Ada perasaan malu dan tidak enak mengapa hal-hal seperti itu sampai perlu ditulis dan diumumkan. Mungkin memang berdasarkan pengalaman selama pengoperasian busway, karena seingatku di periode awal tak ada tulisan itu. Maka akupun memasang senyum terbaik yang aku bisa sambil dengan perlahan kuletakkan uang di mulut loket, meski ternyata petugas loket tak juga melihat ke arahku apalagi tersenyum..

Di satu surat pembaca sebuah surat kabar, kubaca seorang ibu muda yang menyarankan kepada pengelola transjakarta untuk membuang saja petunjuk di bangku khusus orang tua dan ibu hamil di dalam bis. Karena selalu saja orang-orang tetap duduk acuh tak acuh di bangku khusus tersebut meskipun di dekatnya berdiri orang tua atau ibu-ibu hamil. Hal itu bahkan sudah diperhatikannya jauh sebelum sekarang ini saat ia sendiri hamil.

Suatu siang aku berhenti di lampu merah Kalimalang. Mobil di belakangku terus menglakson berulang-ulang. Jelas sangat mengganggu. Meski jalanan relatif sepi, tapi jika itu berarti menyuruhku untuk melanggar lampu merah maka seberapa keras dan lama ia memencet tombol klakson, usahanya pasti akan sia-sia. Ketika lampu beralih hijau, dan baru aku mulai berjalan, mobil dibelakang itu menyalibku dengan kasar dan penumpangnya meneriakkan kata makian kepadaku.

Di hari libur, aku berniat mengajari anakku untuk membayar sendiri barang belanjaannya. Kuminta ia antri sambil memegang belanjaan dan uangnya erat-erat. Saat gilirannya tiba, mendadak seorang ibu menyodok anakku dengan meletakkan belanjaan di depan kasir. Anakku bingung, lalu aku segera mendekat dan kujelaskan bahwa anakku telah antri lebih dulu. Ibu itu -- yang berdandan rapi dan sopan -- mengangkat kembali belanjaannya tanpa mengatakan apapun dan sambil membuang muka sama sekali tak melihat kepadaku atau anakku.

Di televisi aku menyaksikan bagaimana para pedagang menggunakan segala cara agar dagangannya cepat laku dan mendapat untung lebih besar. Buah-buahan yang diwarna seolah segar cerah, tahu tempe ikan dan mie yang diawetkan dengan formalin yang sangat membahayakan kesehatan, timbangan yang diganjal, ayam dan sapi yang diglonggong air untuk menambah berat, bahkan daging celeng yang disamarkan diantara tumpukan daging sapi.

Aku setuju bahwa bangsa ini sedang mengalami kemerosotan akhlak dan moral, seperti yang sering diteriakkan para pemuka-pemuka agama dengan wajah garang. Tapi bagaimana solusinya? Tak sengaja aku melihat di layar televisi seorang ahli agama sedang berbicara dengan serius, yang membuatku berhenti di depannya sambil ikut serius memperhatikan. Ternyata sang ahli agama itu sedang membahas detail dalil-dalil dan perbandingan data-data sejarah untuk menyimpulkan halal atau haram bila seorang perempuan hendak menanam bulu mata buatan. Halaah...