Friday, February 22, 2008

YULIA

.
Perjumpaan ini adalah persinggungan waktu yang kedua. Setelah saat pertama lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Samar-samar aku masih teringat wajahnya. Tapi, apakah dia mengenalku?

Kamu yakin dulu pernah ketemu aku?
Iya lah.. Wajahmu nggak asing kok..
Sama lah..

Gambaran masa lalu muncul lagi di depanku. Mungkin dulu aku sering berpapasan dengannya. Mungkin dia baru keluar kelas saat aku melewatinya menuju kantin. Atau aku sedang duduk bergerombol dan dia berjalan melintasi lapangan upacara. Entahlah.. Tapi jelas memoriku masih menyimpan raut mukanya. Agaknya begitu pula ia mengenaliku.

Aku senang bertemu teman. Aku perlu teman karena terlalu sering di kantor sendirian.
Aku juga senang dong.. Jenuh nih sama keruwetan kerjaan. Tapi males pulang karena di rumah nggak ada siapa-siapa.

Dia adalah jawaban atas undanganku. Atau aku yang menjawab undangannya? Atau mungkin semua ini hanya kebetulan (walau aku tak lagi percaya bahwa kata kebetulan memiliki makna).

Aku nggak minum kopi. Perih perutku dibuatnya. Mungkin karena penyakit maag.
Aku juga nggak minum kopi. Nggak mau aku terlalu lama terjaga saat aku sendiri dan sepi.

Dia sedang perlu teman. Aku juga. Tetapi karena alasan yang berbeda. Sebagaimana kita sama-sama bukan peminum kopi, meski penyebabnya tak sama pula. Dan sungguh mengagumkan, karena ini baru awal dari persamaan-persamaan dengan alasannya sendiri-sendiri. Perhatikan..

Kumantapkan diri untuk menikah, segera setelah aku putus dengan mantan pacarku karena soal perbedaan yang tak ada jawabnya, lalu aku bertemu dengan orang pertama yang mendekatiku.
Hmm.. aku mantap untuk menikah, justru setelah persoalan perbedaan yang tak ada jawabnya tak mau lagi kuanggap sebagai persoalan.

Perkawinanku akan terus kupertahankan. Karena pilihan bercerai sudah kuhapus dari kamus hidupku sejak aku dan kakak adikku mengalami sendiri trauma perceraian orang tua kami.
Perkawinanku juga akan selalu kujaga. Tapi ini sekedar pilihan. Karena aku baru sadar bahwa perceraian bukan lagi hal yang tabu. Menurutku ia sudah menjadi salah satu alternatif pilihan penyelesaian masalah rumah tangga.

Dia terdiam sebentar. Aku juga. Lalu kami bercerita bergantian tentang banyak hal. Masa lalu, sekolah, pasangan, pertemanan, pekerjaan, anak, apa saja. Dan waktu di tempat ini berjalan dengan kecepatan yang tak sama dengan saat aku menjalaninya di ruangan kantorku. Karena aku tak merasa bahwa pertemuan ini sudah jauh lebih lama dari rencana.

Kujabat tangannya sambil tersenyum dan kuucapkan terima kasih. Ia juga tersenyum dan mengucapkan kata yang sama. Lalu aku kembali ke kantor dengan mengingat kembali pertemuan itu.

Tak mau aku jatuh cinta lagi. Karena hanya kepedihan yang kuperoleh.
Sama. Aku juga kapok jatuh cinta lagi.
Kenapa?

Aku diam tak menjawab..